Pages

.:: Selamat Membaca semoga bermanfaat. Amin ::.

Pendekatan Pada Konflik Papua

 
PAPUA, wilayah paling Timur Indonesia tak pernah reda dari gejolak. Dalam waktu seminggu terakhir tidak kurang dari  6 orang tewas tertembak, termasuk Kapolsek Mulia Kabupaten Puncak AKP Dominggus Octavianus Awes. Banyak pihak khawatir situasi terus memanas dan berdampak makin burukk bagi rakyat Papua bila pemerintah tak segera mengubah cara pendekatan yang selama ini digunakan untuk menyelesaikan konflik, dari pendekatan militeristik ke cara persuasif dengan mengutamak dialog.
 Sesungguhnya konflik yang terus membara dii Bumi Cendrawasih sejak 1963  merupakakn konsekuensi dari kekeliruan negera merancang skeanario perubahan dan pembangunan yang cenderung menafikkan kepentingan dan eksistensi masyarakat setempat. Bila dicermati setidaknya konflik Papua menampakkan tiga dimensi. Pertama; dari perspektif politis konflik itu tidak lepas dari sejarah integrasi wilayah itu menjadi RI.
Kendati hasil pepera mendapat pengakuan Internasional melalui Resolusi Majelis Umum PBB Nomor 2504 (XXIV) Tahun 1969, jujur harus diakui bahwa proses tersebut menyisakan ketidakpuasan pada sebagian masyarakat Papua yang tetap menginginkan merdeka.
Keinginan sebagai rakyat Papua untuk memisahkan diri dari NKRI itu disikapi pemerintah lewat pendekatan politik melalui UU Nomor 45 Tahun 1999 tentang pemekaran wilayah dan UU Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi khusus (Otsus) bagi Provinsi Papua. Ketidaksiapan elit politik menyikapi kebijakan baru itu berdampak pada munculnya konflik horizontal antarkelompok masyarakat, baik antara penduduk maupun antara masyarakat adat dan pengusaha. Situasi ini juga mnybabkan pngabaian pmenuhan hak-hak dasar masyarakat Papua.
Kedua, dari perspektif ekonomi, kisruh keamanan di Papua slama ini tidak lepas dari fakta terjadinya perebutan atas pengusaan sumber daya alam yang melimpah. Kekayaan alam menjadi magnet kuat bagi investor (asing maupun lokal), pendatang (migran), dan elit politik baik dipusat maupun daerah untuk mendapatkan akses pengelolaan.  Perebutan penguasaan sumber daya alam ini berdampak pada terjadinya pelanggaran HAM di Papua.
Membangun kepercayaan
Ketiga; dari sisi kultural harus diakui kenyataan subjktif masyarakat Papua, bahwa diwilayah yang luasnya skitar tiga setengah kali pulau Jawa ini memliki sekitar  250 suku/ kelompok dengan bahasa berbeda, tersebar dipantai, perbukitan dan gunung. Mereka sangan rentan terhadap perubahan yang diintroduksi dari luar dan bersifat sepihak. Dari fakta itu maka sesugguhnya kekerasan yang terjadi di Papua tidak dapat lagi dijustifikasi sebagai usaha untuk melepaskan diri dari NKRI dan kemudian diidentifikasi sebagai gerakan separatis.
Kondisi itu lebih pada persialan keadilan dan manifestasi kekecewaan  mereka atas ketidaknyamanan, ketidakamanan, dan tidak adanya perbaikan ksejahteraan hidup. Dengan demikian, mestinya pendekatan yang dilakukan pemerintah untuk menyelsaikan masalah juga harus berubah. Pendekatan militer yang makin memperkokoh dominasi negara menyebabkan terjadinya kekerasan militer dan kekerasan politik. Situasi ini mendorong berkmbangnya asporasi politik yang justru anti NKRI.
Kesadaran penuh bahwa Papua adalah bagian dari NKRI mestinya melahirkan kesungguhan dan kpedulian semua pihak. Komitmen bersama perlu terus dibangun untuk menari solusi damai dan komprehensif. Disampinf itu, pemerintah harus lebih serius untuk menyelesaikan persoalan ktidakadilan di Papua melalui pendekatan pembangunan dengan fokus pada empat sektor utama sebagaimana diamanatkan oleh UU Otsus Papua, yaitu pndidikan, ksehatan dan gizi pemberdayaan ekonomi, serta pembagunan infrastruktur.
penyelsaian masalah Papua tidak bisa lepas dari ksungguhan pemerintah untuk mnegakkan HAM dengan menyelesaikan secara adil kasus pelanggaran HAM. Rekonsiliasi yang dibangun atas dasar penghormatan prinsip juga dapat menjadi satu pilihan cara untuk memperbaiki. pPeluangnya didasari oleh pasal 46 Otsus Papua, dan gubernur dapat mengusulkan pembentukannya. Persoalannya, adakah kemauan politik pemerintah untuk menjadikan Papua sebagai tanah damai ?

Dikutip dari : Suara Merdeka, edisi Sabtu 29 Oktober 2011.
By : Dr. Rahayu SH MHum.

Penyelewengan Makna Cinta.

Begitu banyak yang menyimpulkan dengan bahasa yang anggun nan indah tentang bahasa cinta. Tapi, di era globalisasi ini juga begitu banyak yang mengotori keaslian dari makna cinta yang mereka simpulkan tersebut. Kalau boleh saya ambil contoh di zaman dewasa ini, mari kita menoleh ke daerah disekitar kita, bukankah banyak diantara teman, kerabat dan sahabat-sahabat kita yang pintar merangkai kata menjadi rentetan kalimat yang cemerlang ?
Tapi, bukankah juga begitu banyak diantara mereka yang sering mengalami setres (baik itu kelas berat atau setres kelas ringan) yang diakibatkan patah hati???  Padahal, sejatinya cinta itu sendiri telah sering mereka baca, dengar dan mereka tulis di pelbagai lembaran. Ok, sebagai contoh yang konkrit. Akan saya angkat satu contoh yang rill. Pernah suatu ketika saya mendapatkan kalimat yang begitu manis dari seorang gadis cantik, cerdas dan baik, ia pada saat itu masih duduk di bangku Kuliah dengan jurusan Sastra Bahasa Indonesia. Ketika saya tanya definisi tentang cinta menurutnya, ia langsung memberiku jawaban yang mampu tercengang bagi siapa saja yang membacanya dan merenungkannya. Berikut adalah kalimatnya :
Arti Cinta :
Cinta adalah anugrah terindah 
Yang diciptakan oleh Sang Pencipta 
Ada dalam setiap hati manusia
Datang dan pergi begitu saja
Cinta terkadang indah 
Terkadang membuat orang gila
Terkadang membuat orang buta
Juga bisa membuat orang menangis
Itulah Cinta...
Yang tak bisa dimengerti oleh logika 
Begitu indah saat Tuhan mempersatukannya
Memadu kasih dalam hati bersuka ria
Namun terkadang menyakitkan saat cinta itu berpindah kelain hati
Air matapun menetes dengan sendirinya.
Itul Cinta".

Setelah saya mendapatkan tulisan ini, betapa saya sangat merasa senang karena saya pikir cinta itu memang bisa dengan mudah dimiliki oleh setiap orang. Tapi setelah saya telusuri dan saya buktikan, ternyata kata-kata yang keluar dari mulut para pujangga palsu itu adalah hampa. Karena dijaman yang edan ini mulai banyak sosok-sosok yang muncul mengaku sebagai pecinta khususnya dikalangan pemuda/i. Salah satu contoh adalah pacaran yang frekuensinya agak sedikit lama. Mereka yang mampu melewati masa pacaran selama 2-3 tahun tanpa masalah dengan lantang di katakan bahwa mereka adalah seorang yang setia kepada cinta.
Padahal, tidakkah mereka telah tau bahwa cinta itu sejatinya tidak pernah menuntut untuk dimiliki ?. Bait-bait syair tentang cinta sepertinya mulai lumpuh dengan hadirnya para pecinta palsu yang bertopeng menggunakan paras cinta namun sejatinya dalah penafsu.  Yang sering saya jumpai di jaman sekarang ketika dua jiwa memadu ikatan denga sample pacaran bahkan nikah atas nama cinta saling mencintai. Ketika mereka bisa saling melengkapi satu sama lain, betapa mereka telah terhanyut dalam aliran kebahagiaan yang tiada muaranya. Tapi anehnya, ketika mereka tidak saling melengkapi atau terjadi konflik diantara mereka justru sering terjadi saling menhujat dan menjelekkan. Padahal mereka telah berangkat dengan mahkota cinta untuk menempuh hubungan bersama.
Sobat, mengertikah kita bahwa cinta itu sesungguhnya hanya dimiliki oleh mereka yang memiliki kesucian jiwa yang jauh dari bayang-bayang nafsu untuk memiliki ataupun menguasai.???  Dan cinta telah cukup untuk cinta itu sendiri, tapi kenapa ketika pasangan kita memiliki kesalahan yang timbul atas keterbatasannya malah di anggap bahwa ia telah berkhianat, tidak setia lagi dan tidak cinta lagi…??
Inikah cinta ?
Bukankah cinta itu telah menyampaikan kepada hati kita bahwa ia telah cukup senang ketika melihat sesuatu yang kita cintai duduk diatas sajadah kebahagiaan yang walaupun diri kita teramat sangat kesulitan untu mencapai hal itu.
Perbedaan Cinta dan Nafsu
Cinta itu cukup disandarkan kepada sesuatu yang kita cintai, dan itu tidak terbatasi oleh masa, usia dan jangka waktu. Tapi nafsu, akan sirna ketika kita telah mendapatkan apa yang kita inginkan.


Sobat, cukup dulu ya….
Ane udah ngantuk nich lagian ane masih mau beres-beres warung (Angkringan Sego Kucing). Kalau ada yang belum dimengerti, bisa langsung tinggalkan komentar ataupun pesan dimari, InsyaAllah kalau saya bisa menjawab akan segera dijawab. Tapi kalo saya tidak bisa, akan saya usahakan untu  mencari pakarnya.
hehehe

Syair Syekh Siti Jenar

Syekh siti jenar (tidak sesungguhnya)














Itulah sembah puji senantiasa 
Jika begitulah memang
Keberadaan manusia
Bahagia meski tanpa sandang
Tak beruka meski tanpa pangan
Kalaulah dicela
Justru teramat suka

Jika mendapatkan mara bencana
Serta segala musibah menimpa
Ia hanya tertawa
Karena hatinya tiada yang dijaga
Dan tiada yang ditakuti hanya kesentosaan
Dari lahir terus kebatin.



Lahir batin keberadaan Sukma
Yang disembah Gusti
Gusti yang menyembah
Diri menyembah disembah
Memuji dipuji sendiri
Timbal balik



Ilmu berarti mengatahui kenyataan
Yang bebas dari indra melebih lepasnya peluru
Hakekat ilmu sejati terletak pada cipta pribadi
Maksud dan tujuannya disatukan adanya
Lahirnya ilmu unggul dalam keadaan sunyi jernih



Wahdat tergesira
Kawula tunggal ing Gusti
Tunggalé tan pagepokan
Epan kumpul dadi siji
Ing dalem kalimah takbir
Munajat maring Yang Agung
Tan ana Gustiné kawula
Lebur papan lan tulis
Pan sanepa jené lan dembaga



Wus ilang jeneng dembaga
Sumerta araning jené
Ananinging gumebyar
Iku cahyanipun jené
Dén becik sira niti
Pasemon kang kaya iku
Pan aja kaliru tampa
kang dudu dipun araninya
mandar elameta imanira


Hidup itu bersifat baru
Dilengkapi pancaindra
Sebagai barang pinjaman
Bila diminta pemiliknya kembali
menjadi tanah dan membusuk
hancur dan bersifat najis
karena sifatnya itu pancaindra
tak dapat dipakai sebagai pedoman




Manusia yang hakiki adalah wujud hak,
kemandirian dan kodrat berdiri dengan sendirinya
Adanya kehidupan itu karena pribadi
Ditetapkan oleh pribadi, ditetapkan oleh kehendak nyata
Hidup tanpa sukma
tiada merasakan sakit atau lelah suka duka pun musnbah
Berdiri sendiri menurut karsanya
Hidup sesuai kehendaknya

Kodrat adalah kuasa pribadi
Tiada yang mirip atau menyamai
Kuasanya tanpa peranti
Dari tanpa rupa menjadi warna-warni
Lahir batin satu sebab sawiji
Iradat berarti
Karsa tanpa runding
Hidup berdiri sendiri
Menurut karsanya
Sesuai kehendaknya


Kurindukan hidupku yang dahulu kala
Ketika aku masih suci tiada terkira
Ketika aku belum kenal arah dan tempat
Tuk tahu hitam, putih, hijau, biru, jambon dan kuning pun tiada sempat
Kapankah aku ‘kan kembali pada hidupku yang dulu
lahir di alam kematian ini penuh kesusahan
Lantaran kalu memuat sidat baru



Seorang yang dihadap oleh kawulanya
Ia duduk dikursi kekuasaan dan kaya raya
Tanah luas dan hiasan rumahnya indah
Kemenangan ditangannya dan bangga
Tidak tahukah dia
Segenap benda didunia itu musnah dan menjadi tanah
Mengapa dia sombong dan pongah
Oh, kasihan saya kepadanya
Sifat dan citra diri sebagai mayat pun tak disadari
Ia merasa palling cukup dan pandai


:: Semua syair atau tulisan ini bersumber dari Buku  Syekh Siti Jenar 2 ( Makrifat dan makna Kehidupan)



Tuhan yang diBayangkan


SEORANG teman yang gemar mengumpulkan dan mendalami bacaan tentang sufisme mengirim sebuah SMS selepas tengah malam. Pendek isinya: “Di alam kubur Rabi’ah al-Adawiyah didatangi dua malaikat, ditanya ‘Man Rabbik?—siapa Tuhanmu?’. Rabi’ah menangis dan balik berkata, ‘Masya Allah … tanya Tuhan, siapakah Rabi’ah.’”
Saya tersenyum. Teringat akan dua anekdot lain. Pertama, seorang penjaja buah di bus, yang berpindah dari satu bus ke bus lain di jalan antara A—B, terlelap kecapekan di bangku bus kosong dalam bus yang melaju nyaris tak berpenumpang. Kondisi tidak nyaman yang membuat sopir muring-muring dan melaju tanpa kendali, salah mengukur tikungan dan tercebur masuk jurang setelah menabrak pagar jembatan. Si penjaja buah itu menjadi korban meninggal, tanpa sadar bila ia itu mengalami kecelakaan, dikuburkan, dan terjaga ketika didatangi dua malaikat.
“Man Rabbik?” hardiknya. Si penjaja itu tersentak, gelagapan mencari dagangan, serta spontan berteriak “Seribu tiga…!”
Dengan kata lain, seseorang terjaga dan tertidur dengan obsesi serta asumsinya sendiri, sekaligus tetap tranced dalam obsesi dan asumsi itu ketika mendadak ia terjaga lagi setelah tidur panjang. Maka jawaban khas Rabi’ah al-Adawiyah itu amat terkait dengan pilihan, cara hidup, serta obsesi sufistik yang kental dipraktekkannya. Identik dengan problem sosial, impian riil yang terkait dengan kenyataan sehari-hari, dan aksi pragmatik dalam berjuang menjajakan dagangan dan mencari laba yang khas dari si penjaja buah-buahan. Jadi tidak heran kalau ada lelucon, penjaja minyak tanah yang meneriakkan “Minyak!”, ketika ia sekarat dan ditantang dengan acuan keimanan oleh keluarganya. Ide mencari kematian beriman jadi kematian tragis kapitalistik.
***
ITU berkesejajaran dengan isu atheistisasi dengan pola dialektika materialisme ala PKI di paruh awal dekade 1960. Ketika seorang guru doktriner memimpin doa pada Tuhan dengan pamrih akan ada potlot begitu si anak didik minta potlot. Satu hal yang sia-sia karena Tuhan tak pernah bertindak secara riil pragmatik, dan karennya akan kalah ketika semua murid diminta sungguh-sungguh meminta potlot pada si guru, yang dengan segera membagikan potlot yang memang telah disediakan. Tuhan yang selalu transenden nun di entah akan kalah oleh tindakan praktis yang telah disiapkan dan direncanakan. Sekaligus: apa yang bisa dilakukan manusia ketika bertemu dengan masalah yang ada di luar rencana dan perhitungannya?
Itu kisah kedua yang muncul ketika menerima SMS sufistik tadi. Satu kisah yang menggigilkan si pengirim karena itu menunjukkan tingkatan majenun dari orang yang begitu khusyuk dan total mengamalkan amalan sufistik. Dan karenanya menjadi idola dan teladan, sebuah pola yang ingin ditirunya agar ia juga sampai pada tahapan lebur antara hamba—al-Chalik, hingga yang tertusuk padamu jadi luka padaku, dan sekaligus apa yang Aku ketahui adalah apa yang kamu ketahui. Satu tingkatan yang jauh amat tinggi ketimbang hanya ada di tahan aku hanya tahu yang duniawi dan terperangkap dalam labirin keduniawian—atau terperangkap oleh asumsi Tuhan itu hanya dirasakan ada dan karena itu tak akan bisa bertindak praktis dalam memenuhi harapan dan doa arang kebanyakan yang bergelut di tataran fisik dan praktis hal keduniawian.
Sekaligus juga semacam sengatan bagi level kesadaran kepapaan: diri hanyalah seorang abid—hamba ciptaan yang melulu hanya sahaya yang diwajibkan beribadat. Jadi alih-alih dari komplain si bersangkutan yang diharuskan mengajukan semacam proposal tentang kualitas dan mihrab keimanan pada Tuhan (Yang Maha Esa), tapi coba cek dahulu rekomendasi Tuhan (Yang Maha Esa) tentang kualitas dan mihrab keimanan si bersangkutan. Karena seorang ciptaan tetap hanya seorang ciptaan, yang meski amat diistimewakan dan disukai Tuhan, tapi cinta dan suka itu tak menyebabkan mereka jadi dua subyek yang sebanding.
***
POSISI mereka tetap ada di level peta hubungan kreasi antara Pencipta dengan ciptaan. Ada gradasi kualitas dan kehendak. Sesuatu yang menyebabkan seseorang harus tetap rendah hati dan tahu diri sebagai seorang ciptaan, hamba, serta sahaya—yang mengada di dunia ini dengan beban takdir sebagaimana digariskan oleh Tuhan. Tapi bisakah kita mengatakah hal yang formalistik itu pada orang yang tranceddalam kondisi majenun suifistik? Sesuatu yang membuat saya tidak tahu harus bagaimana menjawab SMS pagi buta itu—dan karenanya hanya bisa menghindar dengan membuat lelucon kisah seribu tiga si penjaja buah yang mati dalam kondisi tertidur rohaninya.
Sekaligus sadar: banyak kondisi rohani yang tertidur yang berbeda di antara satu orang dan orang lain—meski si bersangkutan merasa terjaga seperti guru yang sedang melakukan atheistisasi dialektika materialisme. Memang!

Diketik ulang oleh eno ganas
 Dari Beni Setia, pengarang

Sumber: http://cabiklunik.blogspot.com/2011/08/tuhan-yang-dibayangkan.html

Mudik Lebaran (Ketemu Cewek)

Jam 6.45 aku pergi dari rumah (Welahan - Jepara) bertujuan ke Bangkalan Madura, setelah aku pamit kepada semua keluarga dirumah aku langsung bergegas naik bus setelah ditanya mau di anterin apa gak katanya om ku, tapi aku menolak dengan tawaran beliau karena biar sedikit lebih bebas dengan waktuku diperjalanan.
hehehhe
10 menit kemudian aku sampai di Trengguli salah satu tempat di daerah Demak dengan maksud mencegat bus dari arah Semarang-Surabaya. Setelah sekian menit aku disitu sambil ditemani bapak tukang becak yang mangkal disitu, akhirnya bus yang aku tunggu kini datang juga.
"Kemana mas ?" Tanya salah satu kondektur bus Patas yang menghampiriku ditempat aku menunggu bus.
"Bungurasih Pak" Jawabku.
Lalu Kondektur mempersilahkan aku untuk naik dan memilih kursi duduk yang kosong. Disitu aku duduk dengan seorang pemuda berkaca mata serta kuping yang beranting. Pemuda dengan tinggi kurang lebih 155cm itu terlihat begitu kelelahan sehingga ia sama sekali menyapa kedatanganku entah dia habis bekerja tadi malamnya atau telah melewati malanya dengan begagan.
Ah, biarin ah mungking dia sedang kecapean dan ngantuk sehingga begitu terlihat lelap dalam tidurnya selama perjalanan. Untuk mengisi waktuku dalam perjalanan aku membarengi perjalananku dengan membaca buku Merahnya Merah, sebuah buku yang aku pinjem dari salah seorang temenku.
***
11.35 Aku sampai di kota Tuban dan pak sopir menggiring armadana ke salah satu restauran disana, aku kira bus yang aku tumpangi tidak bakal berhenti mengingat hari itu adalah bulan puasa tapi ternyata dugaanku salah, bus yang berpusat di Lamongan itu ternyata masih berhenti di restauran meski bulan puasa. Padahal dari pagi aku masih puasa, tapi karena aku mengidap penyakit maag akhirnya akupun ikut batalin puasa yang ke empat kalinya itu. hehehhe
Setelah selang 15 menit, pak kondektur menyuruh para penumpangnya untuk kembali naik dan duduk ditempatnya masing-masing karena perjalanan akan dilanjutkan. Roda armada terus berputar sesuai dengan kecepatan yang di atur oleh bapak supir bus itu, hingga pukul 15.00 sampailah aku di Gresik.
Terus berjalan. Bus yang aku tunggangi mau masuk toll itu berarti sudah mau sampai Surabaya. Tapi tiba-tiba supir berhenti menginjak peddal gasnya setelah bapak kondektur menyuruhnya karena ia habis menerima telefon dari rekannya dan memberitahunya bahwa rekannya yang satu pooll itu telah mengalami kecelakaan. Akhirnya bus yang saya tunggangi harus berhenti dan menunggunya dengan maksud para penumpangnya di oper ke bus yang saya ikuti tadi.
Walhasil. Dari pengoperan itu duduklah seorang gadis berambut panjang dengan badan agak kurus tapi tidak terlalu. Kitapun saling sapa, tapi aku yang lebih banyak bertanya kronologis kejadiannya (ngitung-ngitung kesempatan nyapa cewek. ahihihihi). Ia pun bertanya kepada aku dari mana dan mau kemana. Setelah bus agak laju jalannya, kitapun  berbincang agak jauh dari awalnya sehingga rasa nervouskupun mulai menghilang (maklum jarang ngobrol ama cewek). Cewek yang berwajah imut itu rupanya sedang duduk di bangku kuliah semester tujuh di IKIP PGRI Semarang.
Kitapun akhirnya mulai bercanda kecil dalam obrolan selama perjalanan. Namun ada yang amat menyedihkan ketika tujuan menuntut kita untuk berpisah di sebuah terminal di Surabaya (Bungurasih). Padahal kita belum sempat tanya nama atau paling tidak tukeran facebook. Dengan penuh gembira aku menerima uluran tangannya yang dimaksudkan untuk salaman perpisahan antara aku dan dia.

Sobat, ceritanya sampai disini dulu ya aku masih capek ne mau ngebo dulu.
Ihirrrrrrrrrr....

Sholat Dhuha


Hai saudara-saudariku, saya ingin berbagi pengalaman saya tentang shalat dhuha. Banyak sekali pengalaman saya yang menyenangkan setelah saya melaksanakan shalat sunnah yang di lakukan sekitar matahari yang mulai terangkat naik kira-kira sepenggelah (6,25 WIB )dan berakhir hingga sedikit menjelang masuknya waktu zhuhur meskipun disunnahkan agar dilakukan ketika matahari agak tinggi dan panas agak terik. Ketika itu saya hidup di rumah kontrakan berdua dengan seorang temanku, sementara uang untuk kebutuhan hidup  sudah tidak lagi tipis melainkan telah ludes alis habiss, namun saya tetap yakin bahwa saya tidak akan mati kelaparan selama saya masih berusaha untuk tetap bisa hidup.

Pagi hari sekitar jam 5 pagi saya masih sempat bingung dari mana saya dapat mengisi perut ini untuk pagi nanti, sedangkan persediaan kebutuhan pokok telah habis dan uangpun juga udah ludes, sehabis shalat subuh saya bersih-bersih kontrakan dan mencuci pakaian yang sudah kotor, kemudian setelah semuanya selesai saya mandi dan siap-siap berangkat kerja. Sebelum saya keluar rumah untuk tujuan beribadah yakni bekerja untuk memenuhi kebutuhan, saya sempatkan untuk menggelar sajadah dan shalat Dhuha sebanyak tiga salam yakni 6 rakaat. Di akhir shalat setelah salam terakhir saya beristighfar, bertasbih, bershalawat serta bacaan-bacaan pujian lainnya yang menyerukan kebesaran Allah. Setelah itu saya menengadahkan tangan seraya meminta kepada Allah, dalam do'aku (“Wahai Tuhanku, sesungguhnya waktu dhuha adalah waktu dhuha-Mu, keagungan adalah keagunan-Mu, keindahan adalah keindahan-Mu, kekuatan adalah kekuatan-Mu, penjagaan adalah penjagaan-Mu, Wahai Tuhanku, apabila rezekiku berada di atas langit maka turunkanlah, apabila berada di dalam bumi maka keluarkanlah, apabila sukar mudahkanlah, apabila haram sucikanlah, apabila jauh dekatkanlah. Dengan kebenaran dhuha-Mu,  keagungan-Mu, keindahan-Mu, kekuasaan-Mu, kudrat-Mu,  (Wahai Tuhanku) datangkanlah padaku apa yang Engkau datangkan kepada hamba-hambaMu yang soleh”).

Singkat cerita.
Jarum jam menunjuk ke arah angka 8.00 itu artinya ia mengajakku pergi keluar rumah dan beraktivitas seperti biasanya. Ketika keluar dan hendak mengunci pintu, Subhanallah... ternyata Allah tidak pernah ingkar dengan janji-Nya. Dengan kilat Dia telah kirimkan rezeki berupa makanan untuk saya yang dikirimkan melalui salah seorang teman saya. Adapaun dua bungkus makanan Catering kelas tinggi itu di tujukan untuk saya dan satu lagi untuk teman kost saya yang pada waktu itu sedang mudik ke kampung halamannya. Ternyata, meskipun saya tidak punya uang dan kehabisan persediaan bahan pokok, namun tuhan begitu sangat menyayangi saya.
Hanya ucapan syukur mendalam yang mampu saya ucapkan waktu itu karena kebahagiaan saya tiada bandingnya, dalam keadaan apapun bila kita mengingat Allah maka Allah pasti akan mengingat kita.

Itu salah satu pengalaman singkat saya sehabis shalat Dhuha, namun masih banyak yang masih belum saya tuangkan disini. Sepertinya sangat rugi sekali bila kita meninggalkan suatu ibadah yang sangat disukai Allah dan Rasul-Nya. Selain itu shalat dhuha mempunyai banyak keutamaan juga manfaat bagi siapa saja yang melakukannya semata-mata karena Allah SWT. 
Selain shalat ini bisa kita anggap sebagai aktivitas pemula kita disiang hari, juga sangat mudah dilakukan karena sudah pasti kita dalam keadaan segar.
Adapun jumlah rakaat dalam shalat dhuha yaitu minimal 2,4,6,8 hingga 12 rakaat, serta cara pelaksanaannyapun persisi dengan shalat-shalat fardhu lainnya.

 Berikut diantara keutamaan atau manfaat shalat dhuha ini adalah apa yang diriwayatkan oleh Muslim, Abu Daud dan Ahmad dari Abu Dzar bahwa Rasulullah saw bersabda,”Hendaklah masing-masing kamu bersedekah untuk setiap ruas tulang badanmu pada setiap pagi. Sebab setiap kali bacaan tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, menyuruh orang lain agar melakukan amal kebaikan adalah sedekah, melarang orang lain agar tidak melakukan keburukan adalah sedekah. Dan sebagai ganti dari semua itu maka cukuplah mengerjakan dua rakaat shalat dhuha.”

"Barangsiapa mengerjakan shalat Dhuha dua rakaat, maka dia tidak ditetapkan termasuk orang-orang yang lengah. Barangsiapa shalat empat rakaat, maka dia tetapkan termasuk orang-orang yang ahli ibadah. Barangsiapa mengerjakan enam rakaat maka akan diberikan kecukupan pada hari itu. Barangsiapa mengerjakan delapan rakaat, maka Allah menetapkannya termasuk orang-orang yang tunduk dan patuh. Dan barangsiapa mengerjakan shalat dua belas rakaat, maka Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah di Surga. Dan tidaklah satu hari dan tidak juga satu malam, melainkan Allah memiliki karunia yang danugerahkan kepada hamba-hamba-Nya sebagai sedekah. Dan tidaklah Allah memberikan karunia kepada seseorang yang lebih baik daripada mengilhaminya untuk selalu ingat kepada-Nya" Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani.[17]

KEMERDEKAAN SEJATI

Saudaraku .......!
Tulisan ini dipersembahkan untuk Indonesiaku
yang hari ini tepat berusia 66 tahun
dan ini bukanlah puisi juga bukan prosa
melainkan sekedar ungkapan rasa.

Saudaraku .....!
Saat ini kita berkumpul diheningnya malam 17 ramadhan
dan dengan semangat Kemerdekaan 17 Agustus
Insya’Allah akan menjadi energy baru untuk meningkatkan kwalitas jati diri kita
Tak ada pesta meriah menyambut kemenangan bangsa
dan tak ada acara special mengiringi peringatan Nuzulul Qur’an
Melainkan kita wujudkan rasa syukur itu
dengan duduk tafakkur sambil meng instropeksi diri

Saudaraku ...!
Memang benar negeri ini telah merdeka,
memang benar bangsa ini telah bebas dari penjajahan
dan memang benar kita telah lepas dari belenggu kekejaman perang,
tapi benarkah kita telah merdeka dari belenggu syahwat dunia
yang setiap saat siap  menghadang dan menyerang ?

Saudaraku
mari kita bermuhasabah :
Ketika Nuzul Qur’an kita peringati setiap tahun,
coba kita tanya diri kita sendiri
Sudah berapa kali kita khatamkan surat cinta ini ?
atau sudah berapa juz kita baca surat cinta ini ?
sekali aku bertanya:
sudah berapa ayat yang sudah kita telusuri
untuk kita reguk ilmu & hikmah lalu menikmati apa yang menjadi janji-Nya
itulah Surat cinta yang menawarkan kebahagiaan
dan akan membebaskan kita dari ancaman api yang membara

Oohh…ternyata…ooohh…ternyata
Al-Qur’an yang kita agungkan
kiranya menjadi hiasan yang diliputi debu-debu disudut lemari kita
Pantas saja, hati kita tak lagi tergetar ketika surat2 cinta itu dilantunkan
Karena sudah tertutup oleh debu-debu hedonisme,
Hedonisme yang menjanjikan kesenangan dunia semu

Itulah sebabnya kenapa Negeri yang indah ini menjadi kotor oleh tangan koruptor
Karena tak pernah merasa puas apalagi mau bersyukur dari setiap karunia-Nya yang tak terukur
Lihatlah berita-berita yang menghiasi layar kaca rumah-rumah kita
Setiap saat mengibarkan bendera para pahlawan koruptor,
silih bergnti mereka bercuap-cuap melacurkan kata-kata
dengan mengatas namakan rakyat kecil mereka memperebutkan kursi kekuasaan
dan ketika kursi kekuasaan itu sudah didapat rakyat tetap dikucilkan

wahai para pemegang kekuasaan, dimana bersembunyi hati nuranimu..?
sehingga puasa ramadhan pun yang mendidikmu selama ini
tak mampu lagi menjadi benteng pertahanan
untuk kendalikan keserakahan dan kerakusan yang membelenggu hatimu

jadi wajar saja
jika rakyat-rakyat kecil tetap merintih dan menangis hingga menembus langit,
maka tak heran ketika Sang Penguasa Langit dan bumi
menurunkan bencana demi bencana  di negeri ini
sebagaimana yang dikisahkan dalam surat Cinta-Nya berikut ini
……
“Jika sekiranya penduduk Negeri-negeri beriman dan bertaqwa,
pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi,
tetapi mereka mendustakan ayat-ayat Kami,
maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”.
(QS.7 Al-A’raaf ; 96)

Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman
dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur..?
(QS.7 Al-A’raaf ; 97)

Saudaraku
sekali lagi aku bertanya
Sudakah kita merdeka sesungguhnya….?
….
Hanya diri kita masing-masing yang bisa menjawabnya

Tapi
Kalau boleh aku mengatakan, bahwa
Kita akan merasakan KEMERDEKAAN SEJATI,
apabila kita sudah konsisten dengan kalimat :

LAA ILAAHA ILLALLAH…MUHAMMADARASULULLAH

Dengan merefleksikan kalimat ini dalam kehidupan kita
insya’Allah tak ada lagi berita besar
yang berkisah tentang korupsi, manipulasi, intimidasi atau sekedar sensasi di negeri ini
dan tak ada lagi fitnah saling menghujat saling mencaci yang mengotori jiwa ini
*
Selamat berjuang negeriku
Selamat bekerja Indonesiaku
Mari membangun, mari memadu daya
mengabdi pada Sang Penguasa jagad raya

Damailah Indonesiaku
Damailah negeriku
Damailah jiwaku

Merdeka…!
Merdeka…!
Merdeka…!

*
Sumber :  Fauzi Nangjoe
Di ujung delta, 17 Agustus 2011

Selamat Hari Ulang Tahun Dirgahayu RI yang ke 66

Pertambahan usia sebuah negara bukan jaminan atas tercapainya kesejahteraan, ketahanan, dan kedaulatan bangsa itu. Yang terjadi, terkadang justru sebaliknya. Negara terus bertambah usianya, tetapi ketahanan, kemakmuran, serta kedaulatannya justru semakin melemah. Saat memperingati hari kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ke-66, hari ini, kita khawatir kondisi itulah yang tengah berlangsung pada bangsa ini. Sejak 66 Tahun yang silam Bapak Soekarnoe sang Proklamator kita dengan gagah dan berani telah memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia, para pejuang yang dengan gigih sehingga mereka berani memertaruhkan nyawanya walau bersenjatakan Bambu Runcing demi mempertahankan tanah air kita tercinta ini. Namun, dewasa ini di negeri ini kerap kali terjadi berbagai peristiwa yang di akibatkan dari prilaku para pejabat negara kita sendiri yang harusnya menjadi panutan dan tauladan bagi seluruh rakyat Indonesia untuk menjaga dan berusaha memajukan negeri ini. Berbagai hal motif prilaku Pejabat yang tak seharusnya dilakukan para pemimpin mulai dari KORUPSI dan SUAP menyuap serta perampasan HAM juga Kurang Tegaknya Hukum bagi seluruh rakyat Indonesia.
Sebenarnya jika kita mau berfikir dan merenungi betapa para pahlawan kita begitu amat sulit untuk bisa mencapai puncak kemerdekaan Republik Indonesia ini niscaya kita akan sadar betul betapa tugas kita sebagai generasi penerus sangat besar untuk menjaga dan melindungi negeri ini dari berbagai KOTORAN yang telah sekian lama mencemari Tanah Air kita tercinta ini.

Untuk para generasi penerus dimanapun berada mari kita bersama tanamkan rasa memiliki negeri ini sehingga kita akan benar-benar berperan untuk menjaga dan melindungi negeri ini dari hama-hama yang mampu melayukan negeri kita.

"Manakala suatu bangsa telah sanggup mempertahankan negerinya dengan darahnya sendiri, dengan dagingnya sendiri, pada saat itu bangsa itu telah masak untuk kemerdekaan. Kalau bangsa kita, Indonesia, walaupun dengan bambu runcing, Saudara-saudara, semua siap sedia mati mempertahankan tanah air kita Indonesia, pada saat itu bangsa Indonesia adalah siap sedia, masak untuk merdeka." - Soekarno, 1 Juni 1945

"Kita mendirikan negara Indonesia, yang kita semua harus mendukungnya. Semua buat semua! Bukan Kristen buat Indonesia, bukan golongan Islam buat Indonesia, bukan Hadikoesoemo buat Indonesia, bukan Van Eck buat Indonesia, bukan Nitisemito yang kaya buat Indonesia, tetapi Indonesia buat Indonesia, semua buat semua!" -Soekarno, Pidato di BPUPKI, 1 Juni 1945 


Kita memang berbeda namun kita tetap satu jua, jangan pernah kita permasalahkan perbedaan yang ada di negeri ini, karena semua itu membuktikan bahwa negeri Indoensia adalah bangsa yang sangat besar. Tak selayaknya bagi kita untuk mengotori hasil kerja keras para pahlawan dengan mebobrokkan negeri ini mulai dari segi terkecil hingga yang besar seklaipun.

Merdekakan diri kita dan pimpin diri kita sendiri agar yang lain tidak perlu kita pimpin.

Anak Punk Bisanya Tidak Hanya Mabok

Anak Punk sepertinya sudah tidak asing lagi ditelinga masyarakat. Segerombolan anak berpenampilan yang terkesan kocar-kacir ini memang seram bila kita lihat secara kasat mata saja, namun ternyata hati mereka tidak seseram penampilannya. Hal ini terlihat jelas ketika saya melihat gerombolan bocah yang menurut masyarakat terkenal anarkis dan suka mabok itu sedang ikut berpartisipasi dalam acara menyambut HUT RI yang ke 66 yakni dengan gagah dan tegap mereka para bocah Punk itu turut serta dalam lomba Baris-berbaris (Gerak Jalan) yang diadakan setiap tahun oleh pemerintah kota Bangkalan.

Mereka yang mengaku hanya bermodalkan PD (Percaya Diri) saja itu sangat antusias dan tertib dalam mengikuti lomba yang terdiri dari 250 lebih peserta. "Kita tidak mengharapkan menang dalam lomba ini, karena kita disini hadir untuk memberikan penghormatan kepada para pahlawan yang telah merebut kemerdekaan dari tangan para penjajah Negeri ini". Tutur si Bontang (sebut saja begitu) yang menjadi pemimpin dalam lomba ini.
Dengan timbulnya sikap idealisme anak Bangsa seperti ini justru sangat memprihatinkan sekali bila mereka mendapatkan cap Pengacau diberbagai kalangan, padahal sejatinya mereka ini adalah para pemberontak yang tidak puas terhadap kinerja pemerintah yang belum bisa membuktikan apa saja yang telah mereka janjikan sebelum menjadi pemimpin. Anti Kemapanan adalah semboyan mereka para anak Punk, yang berarti bahwa mereka hidup dengan cara mereka sendiri baik dalam penampilan maupun cara hidup yang lain selama itu tidak merugikan orang lain, menurut mereka.
Segerombolan macan pemberontak itu mengaku bahwa mereka menghabiskan waktunya sehari-hari dengan ngamen untuk bisa makan, ngerokok, mabok dan kebutuhan yang lainnya. Konser musik rock adalah surga bagi mereka, sehingga tidak heran bila terkadang mereka menyetop mobil ditengah jalan yang sedang melaju dengan bak terbuka atau biasanya truk (sebenarnya gak boleh lho wahay punkers) hehehe
Hal ini mereka lakukan demi untuk bisa menonton konser yang biasanya berlokasi di luar kota.

Untuk Kita

eno_ganas

















Kadang waktu memenjarakan makna    
Namun jangan biarkan ia memenjarakan rasa..     
Biarkanlah ia terejawantahkan bersama kata     
Meski kadang banyak orang akan sering bertanya..      
kini ku bagaikan pepohonan yang haus akan nyanyian hujan     
karena dedaunan yang menmpel pada diriku telah jatuh bersama angan ini...    
meski kau tak kunjung datang menyirami hausnya rasa rindu ini
namun alhirnya kau hadir layak'a embun yang jatuh di pagi hari     
yang selalu memberikan ketegaran pada pepohonan itu...

KENANGAN MALAMKU

















saat itu tanpa bintang, dingin dan basah.
aku seakan tersambar ganasnya kilatan petir
Yang tak pernah ku mengerti maksudnya.
saat itu pula kau wujud dengan taburan benih-benih kebahagiaan
Yang kau dapatkan dari seorang ibu yang sangat engkau cintai.
dan akupun bisa merasakan betapa kau bahagianya disana.
Namun, disisi lain hatiku memancarkan cahaya kekhawatiran,
karena aku takut akan kehilangan dirimu.
mungkin aku memang belum bisa dan tak akan pernah bisa
iklaskan dirimu untuk beranjak dari anganku.
kini malampun makin larut yang biasanya
aku sudah tiba di istana mimpi bersama lelapku.
namun angin malam datang membawa awan  pergi
dan tak lagi menghalangi sinar rembulan di angkasa.
Hingga rembulanpun turut tersenyum atas kebahagiaanmu,
dari sana aku dapatkan seiris senyuman yang di sampaikan oleh
bintang2 di langit, dan aku berharap kaupun berikan senyummu melalui nyanyian-nyanyian itu hanya kepadaku.
karena aku begitu sangat mengharapkanmu.
dalam anganku, aku tak ingin sedetikpun melewatkan malam itu.

namun aku hanyalah manusia yang paling biasa, dan hanya bisa berharap dan berusaha.
p g0z.y

MENYERUKAN NAMA ALLAH


Hari ini tgl 12 Juni 2011, aku sangat merasa menjadi orang yang kurang beruntung hidup di dunia ini (Karena ada peristiwa yang belum bisa saya terima dengan lapang dada). Sekitar pukul 09 pagi menjelang siang, aku duduk termenung dikamar sendirian, tak ada suara apapun kecuali suara jeritan batin yang sama sekali tak ada yang mendengar kecuali Allah semata. MENYERUKAN NAMA ALLAH
Singkat cerita. Ketika jarum jam menyuruh muadzin (Orang yang bertugas Adzan baik dimusholla ataupun di masjid) mengumandangkan adzan dzuhur, tiba-tiba aku dipanggil untuk makan bareng. Sehabis makanpun perut terasa kenyang. (hehehehe)
Karena belum melaksanakan shalat, kemudian aku bergegas naik setelah masuk kamar sejenak aku berbaring dan menatap langitan kamarku. Dalam anganku, aku ingin pergi berlibur seraya menenangkan pikiran atau setidaknya aku bisa melepaskan penat yang ada didada. Untuk pergi berjalan-jalan, tentunya tidak lepas dari yang namanya duit. Yaudah, aku langsung ngorek dompet dan melihat ada berapa ekor penghuni (duiatnya) didalam dompetku. Belum sempat aku melihat jumlah duitku, ternyata ada yang foto seorang teman lama (mantanku), hehehehe.
Aduch MasyaAllah .....
Dia tersenyum lugu penuh pesona di dalam dompetku, tiba-tiba aku merasa ingin berucap terima kasih kepadanya karena walau sejenak aku masih bisa tersenyum. Tanpa di pandupun oleh siapapun, aku langsung ngambil telepon genggan dan mencari namanya yang telah kusimpan diHPq untuk menghubunginya.
Sambil tersenyum sendiri dalam hati aku ingin bilang kangen kepadanya.
Walhasil !!! Setelah aku calling dia, ternyata nomornya tidak aktif (yach... kecewa dah).
Apa dia udah ganti nomor ua ??? (Dalam batinku bertanya).

Singkat cerita lagi....!!!
Setelah senja mulai menjelma dan adzan maghribpun menggema, aku segera bergegas mandi dan melaksanakan shalat maghrib yang aku teruskan dengan membaca Al-Qur'an. Sembari menunggu masuknya waktu isya' kembail aku mencoba menghubungi si dia lagi. (heheeehe agak iseng soalnya).
Hemmm... Ternyata kali ini nomornya aktif .
"Assalamualaikum". Suara di udara seberang.
"Waalaikum slaam" Jawabku.
"Iya ???" Tanyanya, karena memang aku pake nomorku yang belum ia ketahui.
"Apa kabar Mar ???" Tanyaku kepadanya (Anggap saja namanya Mar, walau bukan nama aslinya) eheheh.
"Oh, kamu no, Baik, kamu sendiri gimana ??? ???!!!". Dia mengenali suaraku dan tau caraku berbicara.
"Alhamdulillah, baik. Ada apa No ???"Tanya lagi padaku.
"Gak ada apa-apa kok Mar cuman pengen telfon aja" jawabku sambil agak lebay dikit, gpp tho ?
"hooo kirain ada apa-apa ?" dia bilang.
"Mar Aku..... (tut tit tut)" eh ternyata pulsaku abis ! huffttt (Maklum)

Sebenarnya aku menghubungi dia karena ingin sharing dan minta solusi kepadanya, bukan karena ada niat yang lain. Akhirnya aku menghubungi lewat SMS.
Aku  :  Ada baiknya pulsaku abis, jadi q emang blm wktx crta" Mar. Q btuh support n pncrahan ne Mar! Hri" q smkin kusam ne Mar. (teks dalam SMS yang ku krim kepadanya.
Ngered :  No', perlu km ingat, hati adlh anugerah agung yg Allag karuniakan pda manusia. Dng hati it manusia bisa mengenali, berkomnikasi dan bahkan mencintai. Jika hatimu bersih karena sering kau ucapkan kalimat" yang menyerukan nama Allah aku yakin semua kesedihan bahkan semua penyakit hati hilang, dan kamu bisa tenang, hati juga pusat kebahaiaan no, bahagia atau sengsara bukan tergantung pada materi, gelar atau jabatan, namun lebih bergantung kepada seberapa sakinah kondisi hati yang ada didalam dada".
MasyaAllah, ternyat dia membalas SMSq dengan sebuah untaian kalimat penuh makna dan sangat menyejukkan hati bila di turuti apa yang dituturkan dia kepadaku. Dia adalah seorang gadis yang hidup dengan jutaan pengalaman dari sejuta warna yang ada pada anak muda jaman sekarang. Tapi, dia tidak sewarna dengan muda-mudi yang bejat, yang cara pergaulannya bebas tanpa batas hingga terkadang harga diripun tidak menutup kemungkinan akan mereka anggap bukan hal yang penting untuk dijaga, dan akibat dari pergaulan bebas tadi tidak sedikit yang menimbulkan kehancuran hidupnya. Akhirnya aku kembali bertanya lagi sama si Mar....
"Termakasih Mar, apa hati jua merupakan gerak dari sifar hati Mar....???" balasan SMSq kepadanya.
sambil berharap jawaban SMS darinya aku kembali membaca SMS yang baru saja ia kirimkan kepadaku.  Memang benar bukan ?, Bila hati kita selalu menyerukan nama Allah, niscaya hati kita akan tenang, damai, dan tenteram dalam menjalani hidup.Sungguh tiap butir-butir kalimat yang ia tulis amat sangat penuh arti dan sangat bisa diterima oleh siapa saja yang memiliki hati suci nan bersih.
"treeeetttt3x" suara getar HPq, ternyata ada SMS. Aku yakin dia yang SMS, dan ternyata memang benar.
"Nah, itu tau tetap semangat ya" jawabnya.
kemudian aku kembali bertanya kepadanya."Yang sedang bergejolak didalam dadaku adalah bagaiamana cara mendapatkan tetesan ikhlas, sedangkan hal ini sudah menembus batas yang kesabaranku"
akhirnya iapun menjawab dengan cermat dan menurutku sangat tepat sekali "Allah tidak akan menimpakan suatu kepediha, kesedihan, dan bahkan kesengsaraan melampui kemampuan manusia. Tetap tawakal" Jawabnya, aku membayangkan betapa indah dan damainya kehidupan bila generasi muda/i semuanya membuka mata hatinya untuk belajar lebih banyak lagi tentang syariat, karena dengan syariat kita bisa hidup tenang, damai dan tenteram.

(maaf ceritanya kepotong, soalnya komputernya error dan yang sudah diketik ternyata hilang).

Dari perbincangan singkat ini, aku dapat berkesimpulan bahwa tak ada yang tidak bisa kita jalani dalam hidup ini selama kita mau berusaha dan berserah diri kepada Allah, karena memang hanya Dia satu-satunya yang mutlak dapat membantu kita dalam segala urusan. Dan dari perbincangan antara aku dan Mar (teman  lamaku) ini, aku bisa sedikit tersenyum dan bisa lebih dalam menghirup nafas. Karena memang benar bila hati kita selalu menyerukan nama Allah, niscaya hidup kita akan tenang, tenteram dan  sejahtera  karena semuanya telah di serahkan sepenuhnya kepada sang Khalik.
selamat menikmati.

Wallahu 'alam.

Merintih...

Sudahkah kalian saksikan ...???
Betapa Darah telah bercucuran 
Saat hati ini tersayat dengan sebuah ketidak adilan
Tapi kalian hanya membiarkan dan terus saja diam

Tidakkah kalian juga punya segumpal Hati ?
Yang bila tersentuh kejamnya penipuan
Maka kalianpun akan merasakan Guncangan amarah
Hingga terkadang air matapun kau deraikan dipipimu

Lalu, sekejam inikah kau wahai anak adam ?
Tak ada lagikah rasa kasih sayang sesama 
Atau kalian telah menutupinya dengan kesibukan kalian
Yang hanya kau habiskan untuk kesenenganmu di Dunia


Mulai !
Berhenti !

Kisah Usam

Dalam sebuah perjalanan kehidupan kita pasti mendapatkan cerita yang menjadi kisah tak terlupakan dalam hidup ini, begitu pula dengan aku dan temen-temenku semasa di MAN dulu, banyak sekali warna-warni cerita dalam hidup antara aku dan teman-temanku. Kita semua bagaikan saudara kandung bahkan lebih dari itu, kita terkenal kompak di sekolah waktu itu. Karena memang itu yang kita prioritaskan yakni sejuta warna dengan satu rasa. Tapi, terkadang ada yang disalah gunakan dalam kekompakan kita disini, yaitu kita sering kompak untuk terlambat, tidak mengumpulkan tugas dan bahkan bolospun tidak mustahil bila itu adalah kebiasaan kita (sebagian). hehehehe
Dalam kelas Bahasa, ada banyak karakter yang berbeda-beda, namun rasanya saling melengkapi. Mulai dari yang pinter, sedang, dan dibawah sedang alias minimumpun ada (sengoca'). Ada juga yang rajin (masuk, bolos, pulang istirahat).
ahihihihi
Ok, ne cerita yang pengen aku sampein sebenarnya.
Pada suatu hari ketika aku sedang malas masuk sekolah tapi teman (Jhe, Abenk, dan Ajis) mengajak aku untuk masuk, yiah dengan setengah hati aku berangkat ke sekolah meskipun dengan niat kalo udah nyampe sekolah ntar aku mau tidur (dalam hati).
Setelah nyampe sekolah ternyata aku dan teman-temanku (Jhe, Abenk, dan Ajis) terlambat 3 menit. Namun, terlambat bukan suatu hal yang baru bagi kita. hehehe
Dengan gaya sok lugu kita langsung nyerobot di belakang guru yang sedang ngasih tandatangan buat siswa yang terlambat sebelum kita, dan jalanpun lancar hingga nyampe kelas.
hemmmmmm...... Lega rasanya udah bisa ikut pelajaran sama seperti temen-temen yang lain. (Lebay). Setelah suasana ruangan menggema dengan bacaan do'a pertanda pelajaran hendak dimulai dan guru yang mengajar waktu itu adalah Ibu Jaziroh (Kanjeng Mami), beliau mengajar Antropologi dengan pura-pura aku bermuka semangat, padahal dalam hati ingin sekali rasanya tidur. (hohohohoho)
Tak lama kemudia pelajaran berlangsung, tiba-tiba HP yang sedang bertapa dalam kantong celanaku bergetar (Drrrrrttttt... Drrrrrrtttt...Drrrrrttttt). Dengan singkat aku langsung membukanya, ternyata ada SMS masuk. Hemmmmmmmm
Sambil ditutupi buku, aku membuka sms yang masuk di HPq karena aku penasaran dan setelah aku buka dan ku baca. Wah ternyata dari temenku (Shalbood)
Shalbood : "Boy, ada dimana ? Ayo pulang !!!" Blz.
sambil sembunyi-sembunyi aku membalas SMSnya Shalbood "Q dkls boy, Ok tggu ntar ktm di Stadion. (karena sekolahku memang dekat dengan Stadion Bangkalan).
Shalboodpun dengan kilat langsung membalas SMSq "Sip" (dalam balasanya).
Singkat cerita. Setelah jam 1-2 (pelajaran pertama) selesai, maka aku langsung meluncur keluar dengan ditemani Jhe waktu itu. Lagi-lagi dengan gaya sok lugu aku menembus pagar sekolah yang tertutup. Dan sesampainya dilokasi yang dijanjikan, aku langsung calling si Shalbood,
"Halo match, Badha ekammah/ Halo mat, ada dimana ???" dengan suara agak lantang.
"Ya' badha neng kelas reh/ Ini, lagi ada dikelas ne ...!!!" Jawaban dari udara seberang (HP).
"Babbah, aok jha' aghejek match/ wah, ayo jangan bercanda mat" Pintaku kepadanya.
"Baaa Onggu reh/ waaa beneran ne !!!" jawabnya lagi.
"Hemmm Shalbood kammah/ hemmmm Shalbood kemana ???" karena ku yakin suara itu bukan suaranya si Shalbood.
"Baaa Shalbood sengko'/ waaa Shalbood ne aku !!! dengan santai ia menjawab.
"M*tanah yech Shalbood ? aok kemmah shalbood ??/ M*tamu ya shalbood ? ayo buruan mana shalbood ???" pintaku agak keras karena sudah mulai jengkel plus panik (maklum di area bebas dengan baju seraga di jam pelajaran).
setelah itu langsung kumatikan telpq.
walau cuman berdua dengan jhe, akupun tak urungkan niatku untuk bolos. Akhirnya, kitapun langsung menuju ke tempat ngopi di daerah Demangan Barat (Bo' Teleng) hingga jam 12.
Ketika mulai kurasakan bosan, aku mengajak jhe pulang tapi tiba-tiba si Shalbood muncul dengan tampilan yang agak aneh (batinku). Yaudah, aku dan jhe tidak jadi pulang karena si Shalbood udah dateng, ketika ku tanya.
"sapa ghi' buruh seng ngangka' telp match/ sapa yang angkat telponnya tadi mat?" tanyaku.
"Hah ??? be'eng nelfon/ Hah ??? kamu nelf ??? si Shalbood bertanya seperti orang kaget.
"Lhoch, mellang/ lhoch y iyalah !!! jawabku
"Hadewch.... Tang HP erampas Pak Pa'onk !!! shalbood ngasih tau.
"Bah pagenna/ yang bener ????" pintaku santai, karena tak percaya.
"Ongguen reh !!!!" tegasnya.
"Astaghfirullah,berarti ghi' buruh sengko' ngocak m*tanah dha' pak pak'ong mon deiyech???"


Nah, inilah hal terparah yang aku lakukan kepada seorang guru meskipun tanpa sengaja dan tidak tau, aku berucap kasar namun dalam hati aku merasa berdosa telah mengumpatnya.
Ternyata menjaga omongan itu sangatlah penting coy, karena menurut sabda Nabi, selamatnya insan itu dengan menjaga lisannya. So, jadikanlah pelajaran dari cerita yang sangat burtal ini. Semoga bermanfaat.

Followers